Showing posts with label fiksi. Show all posts
Showing posts with label fiksi. Show all posts

Tuesday, 3 April 2018

APAPUN PROFESI ANDA PASTI JUALAN

APAPUN PROFESI ANDA PASTI JUALAN
Oleh : Dani Maulana @SiKarungGoni


Apa profesi anda sekarang? Pengajar, guru, penyanyi, atlet, karyawan, dokter, suster, penulis, motivator sampai artis. Sadarkah apapun profesi anda sekarang pasti jualan.

Guru menjual ilmunya, penyanyi menjual suaranya, atlet menjual skill dan prestasinya, karyawan menjual tenaga dan waktunya, dokter menjual konsultasi dan obat, penulis menjual tulisan dan bukunya, juga motivator menjual motivasi atau tiket seminarnya. Bahkan saya menulis artikel seperti ini saja sebenarnya sedang menjual tulisan ke media. Dengan begitu jelas sudah, secara tidak langsung profesi apa pun pasti intinya mengarah kepada JUALAN.

Friday, 15 September 2017

Cover Buku Opini Si Karung Goni

Khusus untuk kamu yang sudah dari kemarin sibuk bertanya-tanya kenapa judul buku ini Opini Si Karung Goni, alangkah sebaiknya untuk saya jelaskan terlebih dahulu agar semuanya jadi baik-baik saja. Untuk kamu yang sudah mengerti, ya, puji syukur alhamdulillah. itu berarti menendakan kamu orang yang sangat menghargai dan sangat mengikuti beberapa aksi-aksi cukup brutal, metal dan binal saya selama hidup di dunia ini dan itu sungguh membuat saya semakin senang dan cinta. Tuh, saya jadi geer sendiri deh. Yah, terbang deh, nih lihat saya mulai terbang, yah kepentok lampu deh.

Oke, Opini Si Karung Goni adalah salah satu mimpi besar saya saat pertama kali memutuskan untuk menjadi penulis juga menulis (namanya penulis yah nulis lah). Pelan-pelan mimpi itu terwujud dengan lahirnya buku saya ini. Saat awal masa karir menjadi seorang blogger, saya memutuskan membuat konsep disetiap tulisan saya bahwa tema-nya adalah OPINI. Lalu, Si Karung Goni sendiri nick name saya, nama samaran saya, nama panggung atau apalah, lebih mudah menemukan saya dengan nama itu di kolom pencarian google, penjelasan tetang nama itu ada di dalam buku ini. Jadi yang akan tahu arti juga sejarah dari Si Karung Goni, ya, yang punya buku ini. Makannya beli...!!!


Saturday, 7 February 2015

Naskah Novel 4 (Empat) Titik (.)

Tempat ini sungguh teramat gelap sampai tak terlihat bias cahaya dari genangan air, jalannya juga sempit membuat sesak nafasku melewatinya. Dengan sisa nafas yang habis karena berlari dari ujung jalan menghindari sosok menakutkan yang tiba-tiba hendak menerkamku buas saat tadi duduk sendiri di taman kosong yang berjarak sekitar 10km dari kampusku.
            Tujuanku duduk menyendiri di taman itu tidak lebih hanyalah untuk merenungi beberapa kesalahan yang telah aku buat. Dimana kata maaf tidak cukup lagi menebus kesalahan itu, ditempat itu aku terus menyesali perbuatanku ini. Andai ada kata yang bermakna lebih diatas kata ma’af. Tapi ah, semua itu semakin sulit kutemukan dalam kondisi seperti ini dan membuat diriku merasa berada dideretan daftar 7 orang paling berdosa versi On The Crot.
        “Kau harus mati... kau harus mati...” Teriak sosok itu sambil mengejarku, mengacungkan sebilah potongan kayu tajam yang siap menghujam di tubuhku.
            “Siapa kau ini?” Tanyaku yang merasa ada sedikit rasa takut dan penasaran.
            “Aku adalah dosamu.” Jawab sosok itu dengan menatap bengis.
            Belum sempat aku memperhatikan dan tau jelas siapa sebenarnya dia. Yang aku lakukan hanya terus berlari menjahuinya. Kami jadi saling berkejaran ditengah dinginnya malam, tak mampu aku berteriak meminta tolong. Lagipula jalanan ini mulai sepi, siapa yang perduli dan siapa yang bisa dengar.
            Andai saja tubuhku lebih kuat dan lebih kekar dibanding sosok yang mengaku dosaku itu, sudah kulawan dia, akan kuhabisi nyawanya seperti tragedi kematian ayam peliharaan keluarga Pak Broto yang kulenyapkan siang tadi.
            Pak Broto adalah ayah dari kekasihku, tepatnya mantan kekasihku Nurmala. Hewan kesayanagan keluarganya habis ditangan orang-orang suruhanku siang tadi. Tak usah lagi kau menanyakan dosa apa yang kurenungi di taman tadi. Karena inilah jawabannya, aku seorang pembunuh.
            Satu isi kandang hewan peliharaan keluarga Broto mati dengan cara yang tragis, pembantaian masal yang tersusun rapih tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Hal itu aku lakukan atas dasar cemburu, patah hati dan dendam. Bukan atas dasar suka sama suka.
            “Nurmala sudah aku jodohkan.” Kata Pak Broto saat itu “dengan pengusaha muda asal Medan yang lebih jelas masa depannya dibandingkan dengan Mahasiswa nakal begajulan sepertimu.” Itulah yang membuatku menjadi dendam dengan keluarga ini. Aku merasa dihina walau hakikatnya diriku ini memang tercipta dari air hina.
            “Tapi Pak Broto, aku sangat sayang dengan Nurmala.” Sangkalku yang meyakinkan Pak Broto.
          “Rasa sayang itu tidak cukup untuk menjamin kehidupan masa depan anakku.” Jawab Pak Broto yang semakin kesal, “Pergilah, jauhi anakku mulai sekarang.” Usirnya saat itu. Ditambah lagi ucapan yang samar aku dengar setelah beranjak pergi keluar “memangnya cukup anakku ini kau beri makan cinta”.
            Nurmala sebagai kekasih juga saat itu lebih memilih menuruti kemauan orang tuanya, hubungan yang aku dan dia jalani selama 2tahun harus kandas begitu saja menyisakan luka yang sangat mendalam. Menimbulkan titik-titik perasaan tidak terima dengan keadaan ini yang lalu terangkai semakin jelas menjadi kebencian.
***
Ditengah pengejaran sosok itu keadaanku semakin terjepit, kini aku berada dijalan buntu ujung gang lembab dan gelap. Semakin terpojok dan sudah tidak bisa lagi lari atau berbalik arah.
            “Hahaha... mau kemana lagi kau? Serahkan saja nyawamu.” Geram sosok itu. Matanya tampak berukuran besar, entah tandanya dia sangat marah atau mungkin bola matanya hampir lepas, aku tak perduli.
            Kuhilangakan rasa takut ini, sudah tak berguna lagi terus berlari menghindarinya. Akan kulawan saja sosok menyeramkan itu, sebagai orang yang sudah terlanjur dicap sebagai pembunuh sebaiknya melakukan hal ini lagi untuk menyelamatkan hidupku.
            “Kamu yang akan mati orang aneh.” Kataku lantang yang sekarang mulai berani melawannya.
            “Hahaha... dosamu tak akan pernah mati anak muda, kecuali dengan bertaubat. Maka bertaubatlah kau segera anak muda.”
            Aku berkata seraya menyerangnya dengan pukulan “Banyak bicara kau orang aneh...” namun sosok itu tak bergeming sama sekali, pukulanku bertubu-tubi kearahnya tak membuat tubuhnya bergeser sedikitpun, kuat sekali dia.
            “Pukul sepuasmu diarah yang kamu mau anak muda, aku dosamu yang besar dan kuat sesuai apa yang telah kamu kerjakan semasa hidupmu.”
            “Lalu apa sebenarnya mau kau orang aneh.” Tanyaku yang semakin kesal oleh gelak tawa hina sosok tersebut.
            Lalu dia menghentikan tawanya dan menatapku lebih tajam dari sebelumnya, kini aku bisa melihat jelas wajahnya yang ternyata mirip sekali denganku, hanya saja dia tampak lebih hitam dan kelam. Dari tangan kirinya dia mengeluarkan paku berkarat yang panas, lalu menusukkan dengan paksa dibagian lengan kiriku sebanyak 4 kali tusukan.
            “Ini untuk dosa pertamamu.” Itu tusukan pertama yang dibuat sosok itu.
            “Argh...” Aku teriak kesakitan.
            “Dan ini untuk dosamu yang ke dua.” Lalu tusukan ketiga, keempat sesuai dengan dosa besar yang dia sebutkan. Hal itu membuatku merasakan sakit yang teramat perih. Darah segar mengucur dari 4 lubang bekas luka paku itu. Sosok itu pun menghilang tidak jelas ke arah mana meninggalkanku yang tersungkur ditanah lembab ujung gang sempit itu sendiri.
            Sakit sekali rasanya, aku merasa lengan kiri ini mati rasa.
***
Hah... aku terbangun jam 3pagi dengan penuh keringat ketakutan. Mimpi apa tadi itu, sangatlah menakutkan penuh darah dan dendam. Ini akibatnya jika tidur tanpa mengambil wudhu dan berdo’a terlebih dahulu mengikuti sunah Rosul. Akhirnya diberikan mimpi yang aneh seperti ini.
            Sedikit melamun beberapa menit untuk mencoba merangkai ingatan akan mimpi aneh tadi. Apa benar aku ini sudah melakukan dosa besar, jangankan membunuh hewan peliharaan Pak Broto dan keluarganya, menginjak semut saja aku tak tega. Mungkin ini adalah peringatan bagiku untuk terus waspada dan menjauhi segala perbuatan dosa.
            Daripada terus mencoba menafsirkan mimpi itu lebih baik aku bergegas mengambil air wudhu untuk melakukan solat malam. Disetiap malam yang sepi banyak sekali orang yang rutin menggunakan moment ini untuk menundukan kesombongan kepada Sang Maha Kuasa.
            Tapi sebentar, luka apa ini? Kutemukan ada bekas luka dilengan kiriku saat menggulung piyama sebelum mengambil air wudhu, bekas lukanya berjumlah 4 (empat) titik hampir sama letak dan bentuknya juga mirip sekali dengan tusukan sosok aneh yang ada dimimpiku tadi. Pertanda apa ini Tuhan? Jujur malam ini aku sangat bingung dan pasrah akan semua kehendak yang engkau berikan kepadaku.
            Jika ini benar pertanda sebuah dosa besar yang pernah aku alami baik yang sadar atau yang tidak, baik yang kulakukan secara tersembunyi atau terang-terangan, baik yang disengaja ataupun yang tidak disengaja, terimalah sujud hambamu ini dalam sepertiga malamnya memohon segala ampunan.
***
Ini pagi yang baru, dimana aku sekarang berangkat kuliah dengan tampilan yang tak seperti biasanya yaitu sudah tidak lagi memakai t-shirt lengan pendek berwarna hitam kesukaanku. Kali ini, aku mulai memakai kemeja lengan panjang yang dapat menutupi tanda 4(empat) titik aneh ditangan kiriku.
            “Wes... ada rockstart tobat nih gak pakai kaos metal lagi.” Sapa Prasetya sahabat kuliahku yang juga seorang anak band.
            “Hehehe, Iya nih lagi pengen berpenampilan rapih.” Jawabku yang menyembunyikan sesuatu yang belum bisa aku jelaskan sekarang kepadanya.
            “Besok jadi yah hadir di lounching album pertama band gue, jangan lupa jam 8malam di Gor Sultan Ageng Tirtayasa Serang.”
            Aku baru ingat setelah Prasetya mengatakan hal tersebut, nanti malam ada lounching band bergenre black metal yang sudah digawanginya selama 4tahun. Mau tak mau aku harus datang menghadirinya, karena tidak enak jika mangkir hadir dalam acara itu. Pras juga seorang musisi lokal yang mempengaruhi pengetahuanku tentang musik indie Serang Banten.
            Sebelum aku mengenal Pras, pengetahuanku tentang Serang Banten dan atmosfer musik disini sangatlah minim. Pras yang banyak bercerita tentang ini itu dari mulai sejarah masuknya musik metal di Serang Banten sampai gaya hidup musisi metal pada umumnya.
Padaku saat perjumpaan awal dengan Pras dia bercerita tentang Black metal yang diawali oleh band Venom pada tahun 1982 lewat album berjudul Black Metal, lalu diikuti oleh band-band seperti Bathory, Mayhem, Mercyfull Fate, Hellhammer/Celtic Frost. Semua band ini dipengaruhi Venom. Band Black metal masih cenderung bermain Thrash metal. Pada awal 80an sampai 90an, Black metal sangat berkembang di daerah Skandinavia oleh band di atas tadi. Jenis musik metal ini juga termasuk jenis metal underground. Black metal mempunyai Sub-genre bernama NSBM, Black metal Neo-Nazi, dua komunitas tersebut termasuk yang berpengaruh di komunitas Underground. Sebuah sejarah yang sangat panjang hingga akhirnya musik ini digandrungi para pemuda dan pemudi Serang Banten.
Aku pernah baca disebuah situs konterkultur.com mengenai aliran musik ini, setelah 20 tahunan lebih sejak kemunculan aliran Black Metal yang identik dengan penghinaan terhadap agama Kristen, ketidakjelasan konsep trinitas, maupun konsep anak tuhan ala Yahudi, kini akhirnya muncul juga band Black Metal yang mengarahkan moncong penghinaannya kepada agama Islam.
Seperti penghinaan yang dilakukan oleh WEAPON, sebuah band black metal asal Kanada, melalui lagunya berjudul “Remnants of a Burnt Mosque”. Lirik lagunya mengatakan demikian:
“Sudahkah melihat tengkorak-tengkorak di danau Leviathan? Merah saga milik umat muslim dibakar! Disaat Mohammad menangisi (seperti parasit yang rusak), (dan) hanya kematian. Membisikkan Allahu akbar. Dari sisa-sisa dari masjid yang terbakar ini. Sekumpulan wanita terangsang untuk kemuliaan malaikat maut.”
WEAPON dibentuk oleh Vetis Monarch pada awal 2003. Mereka sempat masuk label terkenal dikalangan metal, RELAPSE RECORDS pada 2011 dan merilis debut album dibawah label itu.
Penghinaan yang dilakukan oleh band-band black metal semacam WEAPON ini memang sudah bukan hal aneh di Barat. Karena jumlah orang yang menganut atheisme disana sangatlah tinggi. Menurut riset, ada 20% penduduk Amerika adalah atheis. Sedangkan di Perancis, Finland dan Swedia bisa mencapai 25-40%. Maka dari itu jika di Indonesia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan agama ternyata bermunculan penganut aliran musik black metal yang anti-Tuhan seperti ini kan konyol? Jangan-jangan mereka salah pilih negara untuk tempat tinggal.
Aku jadi bingung apakah harus datang ke acara Pras nanti malam atau memilih tidur saja di rumah, lalu memberikan alasan yang bisa membuatnya mengerti. Semakin berusaha untuk berbohong dengan Pras menjadikan aku semakin ingat dengan dosa dan tentunya sosok menyeramkan yang ada di mimpiku semalam.
Haruskah aku mengatakan hal sesungguhnya kepada Pras, bahwa aliran musik yang sekarang ditekuninya itu sangat berpotensi membawanya kepada gerbang kesesatan, menjauhi Tuhan dan merusak moralnya. Bukankah dengan membujuk Pras untuk keluar dari musik black metal adalah salah satu bentuk keabaikan, setidaknya dengan lebih banyak berbuat baik aku jadi memiliki kesempatan untuk menghapus dosa seperti apa yang dikatakan sosok aneh dalam mimpiku itu.
“Insya Alloh, Pras nanti diusahakan datang.”
“Ok, ditunggu yah Bro.” Pras pun pamit pergi, sepertinya akan mempersiapkan segalanya untuk nanti malam. Meninggalkan aku yang sekarang harus mengikuti mata kuliah pagi ini.
Kamu tau apa yang aku rasakan. Iya aku semakin bingung.
                                                                                ***

Naskah ini entah akan jadi buku atau e-book ke-2. Tunggu saja.

Friday, 31 October 2014

Ilusi Si Ilusiana Part 3 Jago Suit

Aku bisa menebak saat ini kamu pasti sedang tertawa. Seperti itu dulu yang aku hanya bisa lakukan saat Lusi mulai berilusi tentang Rumah Makan Pengemis Banten dan soal Bambu Runcing. Kalian bisa saja saling merindu, atas  tawa khas yang memecah sepi bagai merindukan pagi hari.

Dinginnya pagi berselimut kabut yang dulu ada di setiap awal hari Serang Banten menemaniku sampai ke sekolah. Ada PR pelajaran Fisika yang dikerjakan semalaman. Menyebabkan rasa kantuk sampai waktunya Pak Asep guru Fisika masuk kelas.

“Tanggal berapa sekarang?”
Suara Pak Asep memecah keheningan kelas setelah semua murid selesai membaca do’a dan mengucapkan salam.

"Tanggal 15 bulan Oktober 2007 Pak.”
Jawab serentak para murid.

“Oke, nomor absen 15, 10, 20 dan 7 Maju kedepan tuliskan jawaban PR minggu lalu.” 

Ini gaya khas Pak Asep mengajar. Gaya mengajar yang memaksa muridnya selalu siap dalam kondisi apapun dan tentunya siap juga menghafal urutan absen dan tanggal hari ini. Entah gaya ini masih dipakai sampai sekarang atau tidak, yang aku tau dengan begini setiap pertemuan dengan pelajaran Fisika semua murid harus siap.
 
Ternyata nomor absen 7 adalah nomor absenku. Ini sudah kuduga sebelumnya malam hari dirumah saat mengerjakan 3 soal Fisika tentang Teori Momentum.

Hati sedikit berdebar bukan karena sedang jatuh cinta tapi karena aku hanya menyelesaikan soal nomor 1 sampai 2 saja semalam. Ada satu soal ialah nomor 3 yang tidak selesai aku kerjakan mungkin sebab sangat sukar dipecahkan rumusnya. Dalam hati kecil aku berkata semoga saja aku tidak mendapat soal nomor 5.

Aku dan keempat murid yang disebutkan tadi nomor absennya maju dan bersiap menerima pembagian spidol dan nomor urut soal yang akan dikerjakan. Detik-detik  meneganggakan kamu bisa bayangkan saat itu, seperti detik-detik tendangan finalti di Final Piala Dunia. Semakin hening terasa kelas sampai aliran keringat yang jatuh ke lantai pun berbunyi nyaring. *Crek..crek...

“Kamu kerjakan soal nomor 1, kamu nomor 2, dan kamu nomor eee.. nomor 5.....” 

sesaat Pak Asep berhenti karena jumlah soal tidak sesuai dengan jumlah murid yang kebagian giliran maju. Ada 3 soal untuk 4 murid yang artinya ada satu murid dapat bebas kembali ketempat duduk.

Masalah ini diputuskan oleh Pak Asep yang menyuruh aku dan Lena SUIT menentukan siapa yang bebas kembali duduk dan siapa yang mengerjakan soal nomor 3. Inilah saatnya, jempol, telunjuk dan kelingking menyelamatkan nasib pemiliknya, nasib malu dan hukuman karena tidak sanggup mengerjakan PR Fisika.

Momentum SUIT ini berhasil memutar balikan kenangan saat  masih bersama Lusi di sekolah dasar. Lusi itu jago SUIT, aku pun heran bagaimana bisa Lusi selalu melatih ketangkasan ketika adu SUIT. Sempat terfikirkan Lusi itu Dewa SUIT yang diturunkan khusus ke Bumi untuk mengajariku permainan SUIT. Segala urusan yang menentukan dalam hidup kami ditentukan oleh adu SUIT saat itu.

Dari 10x adu SUIT 15x Lusi selalu menang, entah matanya yang cepat melihat gerakan jari saat turun saling berhadapan atau memang jarinya sudah otomatis mendeteksi jari apa yang akan aku keluarkan untuk berusaha mengalahkannya. Yang kuingat semakin aku berusaha mengalahkan Lusi dalam suit semakin jelas kemampuan teknik tinggi yang dia miliki.

Kembali kepada momentum SUIT antara aku dan Lena untuk menentukan siapa yang kembali duduk, Lena mengusap telak tangannya ke rok, aku menjilati telapak tanganku sebagai tanda siap atau bisa disebut kuda-kuda saat bersuit. Dan akhirnya SUIT ini dimulai...

“Ciaaatt........” aku mengankat tangan sampai melewati belakang kepala.
“hiaaatt...” Lena juga begitu bahkan sampai kebelakang punggung.”

Murid lain dan Pak Asep dengan seksama memperhatikan, menunggu dan bersiap melihat hasil pertandingan SUIT antara aku dan Lena. Ini demi Lusi sang Dewa Suit, demi kebebasanku juga, aku tak mungkin kalah dari Lena yang amatiran.

Hasil akhir adu Suit Lena (jempol) VS Agra (kelingking) . ilustrasi gambar : lifosa.blogspot.com

Friday, 10 October 2014

Ilusi Si Ilusiana Part 2 Bambu Runcing

Sekarang kamu akan ku bawa lagi ke era tahun 2005, tepatnya saya sudah masuk SMU kelas X. Begitupun Lusi yang pernah aku ceritakan sebelumnya, masih ingatkah cerita Rumah Makan Pengemis Banten yang diceritakn Lusi ? kuharap kamu masih ingat agar cerita selanjutnya ini tidak menjadi samar.

Aku dan Lusi sudah berbeda tempat tinggal, berbeda daerah juga, Lusi sudah tidak lagi di Serang Banten sepertiku, dia di Jakarta untuk memasuki SMU favorit disana tapi masih planet bumi, sehingga aku tidak usah repot jika rindu, cukup menelponnya saja atau sebaliknya Lusi yang menelpon seperti saat ini. Lewat percakapan telepon dia masih saja berilusi.

“Agra, masih inget gak setelah dari Rumah Makan Pengemis kita pergi ke sebuah benteng peninggalan pejajah di situs purbakala Banten.”

“Masih ku ingat, waktu itu kamu bilang bentengnya awet banget ga rubuh-rubuh.”

“hahaha” tawa lepas khas Lusi.

“Kata kamu benteng ini dibuat dari campuran terigu dan telur Dinosaurus, sehingga bebatuan saling merekat kuat satu sama lainnya. Melindungi penjajah yang takut sama bambu runcing.”

“Kata kamu juga Lusi, bambu runcing itu sebenarnya bukan senjata, tapi makanan khas masyarakat yang dijajah.”

Tugu Bambu Runcing Digulis (sumber foto: Tumblr.com)

Sunday, 21 September 2014

Ilusi Si Ilusiana Part 1 Rumah Makan Pengemis Banten

Ilusi si ilusiana, mari kita panggil saja dia Lusi agar nama ini mewakili kecantikan wajahnya, kecerian hidupnya dan lembut geraknya. Sepakatlah agar cerita ini terus berlanjut sampai kamu sadar betapa sangat ingin ku ceritakan tentangnya malam ini, bersama ingatan yang dikembalikan oleh suasana yang sama persis ketika pertama ku jatuh cinta kepadanya.

Lusi pergi dari aku yang kini sadar betapa indahnya saat berdua dengannya. Ini bukan tentang kesedihan karena ditinggalakan, tapi ini adalah kenangan indah yang ingin kubagikan bersama.

“Kamu pernah dengar cerita Si Pengemis Banten, Gra ?”

Bertanya Lusi dengan suara lembut saat berjalan di jalan sempit dekat tempat wisata sejarah Kerajaan Banten, banyak pengemis yang meminta uang untuk mereka makan saat itu. Ku jawab saja tidak pernah agar Lusi lanjut menceritakannya padaku.

“Pengemis itu sekarang sudah menjadi pengusaha kaya raya loh,”

“Bagaimana bisa ? apa Pengemis itu dapat undian lotre”

“Bukan, Pengemis itu selau bermimpi dan berkhayal menjadi pengusaha kuliner.”

“Lalu bagaimana bisa Pengemis itu mewujudkan mimpinya?”

“Dia membuat komunitas Pengemis Banten, komunitas tersebut mampu mengumpulkan uang hasil mengemis 5 juta per-minggu, 2,5% penghasilan mengemis ditabung untuk modal awal membuat restaurant lesehan khas Serang Banten, namanya Rumah Makan Pengemis.”

Sampai disini aku teringat memang benar ada rumah makan pengemis disekitar tempat wisata, apa Lusi sedang bercanda atau mencoba menghubungkan keadaan sekitar dengan ceritanya sekarang, tapi kuanggap saja ini nyata.

“Oh, rumah makan yang di pojok jalan itu yah.”

“Iya, dulu semua pengunjung tak ingin makan disana, takut dikira pengemis, atau mungkin takut makanannya gak enak, ditambah lagi karena rumah makan tersebut gratis khusus anggota komunitas pengemis, jam tertentu pengunjung harus berbarengan makan bersama pengemis.”

Lusi melanjutkan ceritanya.

“Akhirnya Rumah makan itu sempat bangkrut setelah 1 tahun buka karena sepi pengunjung, kamu tau Aggra apa yang dilakukan Pengemis itu setelah rumah makannya nyaris tutup.”

“Gak tau, apa yang dia lakukan Lus?”

“Pengemis itu kembali bermimpi dan bekhayal segala yang indah tentang masa depannya, baginya kegagalan adalah ketika tak mampu lagi bermimpi.”

Ditengah obrolan kulihat Lusi mengeluarkan uang recehan dikantongnya, dan memberikan kepada para pengemis disisi jalan. Mungkin Lusi sengaja memberikan sumbangan untuk mewujudkan mimpi para pengemis lain. Menyenangkan berdua dengannya ditempat ini, menikmati kokohnya bangunan bersejarah dan sejarah rumah makan yang diceritakan Lusi kepadaku.

“Lanjutkan ceritamu Lus, aku ingin tau ujungnya seperti apa ?”

“Pengemis itu kembali mengumpulkan sisa anggota komunitas pengemis Banten, dan membuat konsep rumah makan yang unik, konsep gembel.”

“Apa itu konsep Gembel, semacam strategi pemasaran kah ?”

“Betul Gra, si pengemis itu merubah konsep rumah makan lesehannya, seluruh pegawai diwajibkan memakai pakaian compang camping ala pengemis, dan nama menu makanan pun dirubah menjadi nama yang unik.”

“Oh iya, kaya Jus Cepean, Nasi Goreng Sampah, dan Ayam bakar sisa kemarin khas rumah makan pengemis yang kemarin kita cicipi itu kan.”

“Iya Gra, jadi rumah makan pengemis mampu menarik minat pengunjung sampai sekarang lewat differensiasi marketingnya, pengunjung seolah-olah dibuat seperti makan dari pengemis, bukan pengemis yang cari makan dari pengunjung wisata. Hebat kan ?”

“hahaha iya Lus, para pengunjung makan dari pengemis, pengemis yang suka bermimpi dan berkhayal.”


Kita pun larut dalam tawa cerita Lusi yang sebenarnya sampai sekarang ku ragukan kebenarannya. Andai Lusi masih disini, mungkin cerita lain yang lebih lucu masih bisa ku ceritan kepada kalian. Tapi tenag saja, saat itu Lusi bersamaku 6 tahun lamanya. Masih ada banyak cerita lain yang akan kusampaikan, tentunya dari Ilusiana si ilusiator termanis yang penah ku kenal.

Tuesday, 19 August 2014

Cerita Aming Waktu SD Bagian-1

Tadi siang gue kedatangan teman akrab waktu SD, gak nyangka banget sih bisa kedatengan temen SD pas lagi nyuci motor sambil joged Morena, nah teman gue ini sebut saja namanya Aming (kini dia tampak menjadi pemuda perkasa umur 23 tahun nama disamarkan).

Aming ini dulu satu bangku sama gue dari kelas 3 nyampe kelas 5 SD, sayangnya saat duduk dikelas 6 kami terpaksa berpisah, hal ini disebabkan karena  berbeda pendapat soal siapa yang paling ganteng diantara keempat personil F4, Tomingse atau Wacele. Sampai disini kami berdua sadar kami sudah meributkan 4 cowok berwajah cantik.

Satu yang paling gue inget dari Aming adalah saat dia boker dicelana saat jam pelajaran PPKN, tapi gak gue lanjutin cerita yang ini, karena terlalu menjijikan dan terlalu mainstream. Tenang aja Ming, gue bakal nyeritain cerita yang seru-seru ajalah, gak mau ngebuka aib teman baik.

Aming orangnya baik sih (bagi pulsa yah Ming, tuh udeh gue puji), tapi lebih spesifiknya lagi dia selalu tertindas oleh temannya yang lebih kuat. Begitulah dunia ini, yang kuat yang bertahan dan kami berdua si lemah selalu berantakan.

Hari ini kami ingin menertawan diri kami sendiri, saling menyambung cerita dan ingatan lucu masa lalu, untungnya Aming ke rumah bawa kue pukis, klo kagak udah gue usir cantik ala Syahrini. “Husss, Hussss,, sana,,,,.” *oke digampar Aming.

Aming mencoba menceritakan salah satu kejadian sewaktu dia masih duduk dikelas 4 Sekolah Dasar, ternyata dia pernah juga naksir berat sama guru pendidikan agama islam yang namanya Ibu Neneng Sumiyati, yang kecantikannya bisa saja disandingkan dengan artis Maudy Ayunda kalau lagi boker.

Tapi sayang cintanya Aming kandas begitu saja karena perbedaan usia yang terlalu mencolok dan gara-gara Aming kepergok Bu Neneng  maen gambaran judi kiuh-kiuh (99) bersama teman-teman lainnya dihalaman sekolah.

Belum sempat mendapatkan maaf dari Bu Neneng, eh malah si Aming ngelakuin kesalahan yang bikin jarak cinta kasih antara guru dan murid itu semakin merenggang. Yaitu saat ada praktek berwudhu untuk penilaian caturwulan terakhir, si Aming gak mau ikut praktek wudhu, alesannya takut cacar airnya nambah banyak. Bu Neneng yang gak menerima alasan itu menyuruh Aming untuk bertayamum, tapi Aming kembali beralasan takut mukanya jadi kusam dan berdebu. Akhirnya Aming gagal lulus ujian praktek wudhu juga gagal menarik perhatian guru tercinta. Kasian banget lo Ming.

Sukurin Aming patah hati gara-gara cintanya semakin jelas kandas bersama berakhirnya mata pelajaran pendidikan agama islam kelas 4, soalnya kelas 5 guru pendidikan agama diganti Pak Mamat yang sebelumnya adalah guru ekstra kulikuler pencat silat.

Selanjutnya akan gue ceritain soal Aming dan Pak Mamat yang jago pencat silat, katanya melalui tangan dinginnya Aming berubah menjadi lelaki sejati yang tidak tertindas lagi oleh teman-teman yang nakal. Melalui didikan Pak Mamat pula Aming jadi lelaki sesungguhnya. Tapi jangan sekarang deh, bersambung aja biar gereget. Selamat mengenang masa kecil, akhir tulisan silahkan sharing kejadian masa kecil yang bisa dijadikan bahan tertawaan dijaman sekarang, ditunggu dikotak komen yah. Salam Morena... 

Aming kaget pas liat badan gue sekarang gemukan, sementara dia masih kurus.

Monday, 12 May 2014

Jangan Sombong Punya Babi

Hey, aku sedang marah hari ini. Kamu bisa lihat dari sorot mataku klo mau. Lihatlah apa yang bisa Aku lakukan setelah seorang lelaki yang katanya sayang, yang katanya cinta dan berjanji tak akan pergi. Nyatanya Dia pergi juga.

Lelaki itu kusamarkan namanya, sebut saja Dia Babi (Serang, 23 tahun). Dahulu sempat Aku panggil Dia Baby, sering juga disingkat jadi Beb. Karena malam ini aku benci kepadanya, jangan protes apabila ku panggil Dia sekarang Babi.

Sebenarnya ini masalah cinta yang mungkin kalian juga pernah merasakannya. Tapi hal ini menjadi luar biasa sakit terjadi padaku. Dia meninggalkan Aku saat hari paling bersejarah. Hari wisudaku.

Dimana para pasangan lain berbahagia, pacarnya datang memenuhi undangan acara wisuda. Ada yang membawa bunga lalu diberikan. Ada yang hanya mengucapkan selamat namun sangat berarti, dan ada juga yang hanya ikut foto bareng pake toga. Tidak bagiku hari ini. Babi pergi menghilang ditelan dunia kerja. Kabar terakhirnya hanya 

“Maaf, Aku harus bekerja di Selatan Indonesia.”

Hah, untuk apa semua ini. Untuk apa bahagia dikelulusan S1 Ekonomi. Tanpa ada yang perduli aku sudah lulus. Mungkin kalian bisa bilang, sudahlah Jenar (namaku), masih ada kedua orang tuamu yang ikut menghadiri wisudamu, ikut bahagia dihari sejarahmu.

Sayangnya bukan hanya itu saja. Babi bekerja disana diajak oleh mantannya waktu SMA yang sukses terlebih dahulu daripada Aku. Namanya Siska, pengusaha muda asal Serang juga 22 tahun usianya sama denganku. Namun lebih beruntung Siska. Bisa punya usaha bercabang diluar kota dan bisa merebut Babi kemungkinannya.

Semua cerita cinta Siska terdahulu sudah Aku tahu dari Babi sendiri. Dan sejujurnya Aku mendapatkan hati Babi secara paksa dari Siska. Tepatnya Aku adalah selingkuhannya Babi saat pacaran dengan Siska. Akulah perusak hubungan Siska dengan Babi pada waktu itu. Jangan bilang Aku yang jahat sebelum kalian tahu cerita selanjutnya.




Ketika masa semester awal kuliah, Babi masih sering dijemput Siska. Aku lihat itu karena Babi satu kelas dengannku. Babi tidak meneruskan kuliahnya entah karena apa. Yang jelas Dia mau kerja katanya.

Babiku tampan, berbeda dengan babi-babi yang lain. Wajar jika Aku suka.

“Hai. Babi.”

Iya, Nar, begitulah balasan sapaku saat pertamakali memberanikan diri menyapanya.

Melihat Babi saat itu tidak sedang bersama Siska, duduk diantara kawannya yang menunggu jam kulaih terakhir. Wajahnya saat itu sedang muram, bisa kutebak saat itu sedang berkelahi atau marah-marahan rupanya.

“Kenapa ko ngelamun?” tanyaku “pulang sama siapa nanti ?”

“oh, gak apa-apa ko, sendiri nih, mau pulang juga gak ada yang perduli.” Jawabnya.

langsung saja kuberanikan diri karena sangat ingin.

“boleh”

Dan dengan rasa ingin cepat selesai jam kuliah hatiku senang. Berhasil mengajak Babi pulang bersama. Itu keinginanku yang pastinya Siska sangat tak ingin hal itu ada.

Akhirnya benar Babi pulang bersamu memboncengku diatas motor metiknya. Kesempatan ini tentunya tak akan aku sia-siakan. Pulang saja tak bisa jauh mendekatinya. Ku ajak Babi mampir ke salah satu kedai sop duren yang terkenal di daerah cipocok serang. Dia mau karena hari panas, atau memang Dia suka duren. Perduli amat, selanjutnya adalah mencari informasi darinya yang berguna untuk diriku.

“Kamu gak apa-apa pulang bareng Aku ?” tanyaku sambil meneguk segarnya sop duren ini.

“yah kita kan searah, gak masalah”

“maksudnya, pacarmu gak marah nantinya ?”

Dia hening sejenak. Mungkin kaget klo Aku tau dirinya sudah tak sendiri.

“gak, lagian kan Cuma temenan.”

“Cuma mau temenan ?” cecarku lagi “klo Aku pengennya lebih gimana?”

“Hah ?”

“Iya, Aku suka kamu Babi.....”

Entah setan apa yang merasuki diriku ini. Aku beraninya menyatakan cinta kepada seseorang yang jelas sudah punya pacar. Parahnya lagi ini awal kita ngobrol bareng, sebelumnya Babi itu cuek sekali kepadaku. Kalian janga bilang setan sop duren yah, nanti si pemilik kedai marah.

Percaya diriku bilang seperti itu kepadanya. Aku yakin tak ada yang bisa menolak Jenar. Gadis cantik dari serang sedikit keturunan bandung. Aku bisa menarik perhatian lelaki manapun, mengambil hatinya walaupun ada hati lain saat itu. Dan, Semoga Babi juga kesambet setan sop duren.


Aku (Jenar) tak mungkin ada yang bisa menolakku. foto: sketsa Awing


“Nar, kamu tau kan Aku udah punya pacar?”

“iya, tau.” Jawabku “tapi aku suka kamu, jangan bikin aku sedih”

Babi hanya tersenyum, tapi memegang erat tanganku saat itu. Ku anggap saja itu jawaban ‘IYA’ dai si Babi yang nampaknya sudah kesambet setan sop duren.




Malamnya Babi menelponku. Atau boleh juga aku yang SMS Babi duluan. Bilang senang telah ada hari ini. Sambil diselang tawa tak percaya Kita berdua menukar obrolan.

“Kenapa sih kamu mau menerima cintaku?”

“karena kamu lebih menyenangkan Jenar. Siska mulai memboosankan.”

Sampai disini kalianbisa tau bagaimana jahatnya Aku, dan bagaimana sifat Babi itu.

“berarti nanti klo Aku juga membosankan Kamu pergi.”

“tidak Jenar. Aku suka kamu.”

Diri ini melayang dibuatnya. Seperti ingin cepat pagi dan bertemunya di kampus. Jangan perdulikan Siska. Kata Babi Siska sedang sibuk denga usahanya yang dirintis bersama keluarganya sehingga tak ada waktu untuk Babi. Mungkin itu celah dimana Babi berpaling. Buat kalian wanita, pedulikan pasanganmu sesibuk apapun. Atau klo tidak mau ada Jenar lain yang siap menyelinap masuk hati pasanganmu itu.

Pagi itu sudah kusiapkan hadiah untuk Babi. Sekedar hadiah yang kuanggap lucu. Yaitu celengan pasir. Handicraft buatan komunitas B-Art (Banten Art). Murah ko, Cuma 25.000 kalian bisa memberi hadiah yang unik.

Handicraft Celengan Pasir. @B-Art

Thursday, 1 May 2014

Ketika Booby Si Harmonica Jatuh Cinta

Diriku adalah barang pajangan didalam etalase bening, disamping kiri kananku ada teman seperjuangan, saling berjuang untuk bebas dari dalam penjara etalase.

Lelaki hitam sedikit cokelat selalu setia menunggu dan melayani pengunjung yang datang setiap hari. Mengunjungi penjaraku ini, dan sesekali mengeluarkan aku atau temanku untuk Dia coba kualitas suaranya.

Ada yang berhasil keluar dari penjara ini, ada yang dimasukan kembali kedalam penjara, entah dibawa kemana, yang pasti lelaki hitam kecokelatan itu senang menerima uang kertas yang nominalnya sudah sesuai dengan label dibagian tubuh kami para penghuni penjara.

Aku menunggu giliranku keluar dari sini, karena disini pengap penuh sesak sekali. Tapi apa daya Aku ini tak bisa berbuat apa-apa. Lelaki itu menataku kembali ditempat semula setelah pengunjung puas mencoba.

Akulah Harmonika, nama lengkapnya Harmonika merk Booby. Jenis kelamin tidak tau persis. Yang pasti Aku benci bila yang mencobaku lelaki berkumis.

Setelah sedikit menguping pembicaran antar pelanggan dan lelaki tersebut, aku baru sadar bahwa sebenarnya ini bukan penjara, tapi ini adalah toko musik yang bertempat ditengah kota. Nama toko musik ini aku ketahui saat temanku lainnya berhasil keluar dan terbungkus plastik berlogo Nada Musik Store.

Baiklah sekarang hanya menunggu pengunjung yang membawaku pergi dari sini, harapanku calon pemilikku mengerti soal musik dan cantik.

Tuhan, kabulkanlah do’a ini.

Sedikit informasi Aku sebagai harmonika memiliki bentuk yang indah, sepertinya begitu walau tubuhku berbentuk kotak, tapi Aku bukan spongebob. Dibagian sisi tubuh ini terdapat lubang-lubang yang juga berbentuk kotak, ukurannya kecil dan banyak hitung saja sendiri, jika ditiup akan menghasilkan berbagai nada indah yang Aku tahu itulah musik. Akulah harmonika si alat musik tiup, kamu harus tau itu.

Hai lihat ada pengunjung lagi yang datang, senyum lelaki penunggu toko pun menyambut kedatannya.

“selamat datang Mbak, ada yang bisa dibantu”

Sapa ramah lelaki itu yang membuat raut wajahnya berkurang tingkat keseramannya. Wanita itu pun menyambutnya dengan senyum yang tentunya lebih manis dibanding lelaki itu. Matanyanya menatap kearah etalase tempat kami para alat musik terpajang rapih. Seperti mencari atau memang tertarik dengan susunan apik kami oleh si lelaki hitam.

“mau nyari apa mbak ?”

“ada alat musik tiup Mas, yang cocok untuk dimainkan saat santai?”

“apa ada yang bermain ketika santai ? hahaha”

Lelaki ini memang humoris, mungkin itu adalah tehnik penjualan ataukah ini modusnya ketika berjumpa pengunjung yang manis seperti wanita itu. Seolah tak ingin hilang kesempatan wanita itu ditunjukkan berbagai alat musik tiup yang salah satunya adalah Aku.

Satu persatu tangan lentiknya memilih, tak jarang hanya dilihat saja, ada yang juga dicoba ditiup. Beruntung sekali bisa merasakan lembutnya bibir wanita itu, harum nafasnya dan lembut sentuhannya. Tapi mengapa giliranku belum juga tiba. Kurang menarik kah diriku dimatanya ? dengan kecemasan ala harmonika kumenunggu sampai gilirannya tiba.

Satu demi satu kawanku sesama alat musik tiup gagal bebas dari penjara, wanita ini sangat pemilih sekali sehingga wajar Dia datang sendiri tanpa lelaki yang menemani. 

Giliranku pun tiba, tubuh ini merasakan sentuhan halus tangannya, matanya yang indah bersinar menatap dalam disetiap bagian tubuhku, mencari cacat namun tidak ia temui. 

Oh rasanya senang sekali bisa sedekat ini dengannya, tak perduli tubuhku dibolak balik yang penting diriku harus siap merasakan lembut bibirnya dilubang-lubang sumber nada.

“hmm, klo yang ini namanya apa Mas ?”

“itu alat musik tiup, namanya Harmonika. Cocok untuk Mbak yang suka bermusik sambil bersantai.”

“bagaimana cara memainkannya ?”

“cukup ditiup dan dihisap saja lubang kecilnya.”

Astaga ini yang kunanti, jangan buat wanita ini kecewa dengan suara sumbang yang keluar. Dengan segenap jiwa dan raga harmonika kulakukan yang menjadi sebab perlakuannya. Dia mulai menghisap aku merintih, dia pun mulai meniup aku tambah merintih, bergeser bibirnya kebagian lubang lain dan akupun merintih dengan nada lain.

Kamu bisa rasakan betapa indahnya perlakukan layaknya harmonika, digenggam erat, tersentuh bibir manis dan ditup lalu dihisap. Bayangkan saja.

Saat-saat indah itu pun usai, sang wanita meletakkan aku kembali sambil tersenyum. Senyumnya berhasil membuat lelaki hitam senyum juga. Aku juga saat itu sudah beberapakali tersenyum, sayangnya tidak ada yang hirau.

Bawa Aku wanita manis kerumahmu, menemani hari-hari santaimu bersama nada dari tubuhku dan angin dari nafasmu. Ini harapan sebuah harmonika yang lama didalam etalase. Mungkin harapan lelaki hitam pula. Jangan buat Aku kecewa dan bersedih, masuk etalase lagi itu rasanya sakit kecuali kau yang manis juga ikut masuk etalase.

Akhirnya wanita itu mampu mendengar bisik nadaku yang lembut bercampur harapan. Uang dengan nominal lebih besar keluar dari dalam dompetnya diberikan pada lelaki hitam yang senang diberi uang lebih sebagai upah jasa.

Selamat tinggal bapak lelaki hitam sedikit cokelat, Aku sudah bisa merasakan udara bebas diluar etalase, selamat tinggal teman-teman alat musik seperjuangan yang tidak bisa disebutkan satu persatu. Aku yakin kalian akan keluar juga pada waktunya.

Kini aku bahagia bersama wanita manis ini, setiap hari ada bersamanya hingga Dia lelah dan tertidur sambil menggenggam diriku yang mulai ia suka. Mimpiku semoga Dia menjadi harmonika betina yang menemaniku. Punya keturunan yang lucu-lucu bernama Moni atau Ika jika perempuan. Atau jika tidak mungkin biar aku yang menjadi manusia, jika jadi manusia namaku tetap Booby.


Saturday, 19 April 2014

Mahkota Emas UntukMu

Malam ini diantara dua sebab yang membuatnya terasa gelap. Satu akibat malam yang memaksa matahari pergi sejenak dan yang kedua adalah pandangan yang mulai kabur ditelannya usia.

Aku melihat diri sendiri yang duduk diantara pekat. Sambil meneteskan airmata namun tak berbunyi. Datang kesini karena diperintahkan oleh pemerintah langit, yang mampu memberikan bahagia bagi penduduk bumi.

Telapak tangan kananKu saat itu masih sama dengan yang dulu, pastinya kekuatannya saja yang berbeda sekarang. Aku yang dulu mampu mengangkatmu ketika jatuh ditepi jalan ramai manusia yang sibuk sendiri. Tapi kini Aku lihat Aku yang tak sekuat dahulu, mengangkat tongkat saja sudah gemetaran.

Teriak disamping telingaMu pun kini percuma, dahulu Kau itu hebat, suara hati yang tak berbunyi saja bisa kau dengar. Aku masih ingat ketika Kau menunjuk muka kekasih yang berdusta. Tanpa Kau tanya Kau bisa tau apa yang Dia Kekasihmu itu lewatkan malam lalu.

"Hai Pak Tua, ini tongkatmu. Bisakah Kau kejar dirimu ini yang masih kuat berlari ?"

Entah Dia tuli atau memang Aku yang bisu, janggut putihMu tak bergerak sedikitpun. Hal ini menandakan Kau tak akan pernah bisa mendengar Aku. Jika Aku mengasihaniMu sekarang, itu rasanya seperti Aku yang sayang diri sendiri diwaktu lalu.

Menyesalkah Kau dahulu, tidak mempersiapkan hari sekarang. Disaat Kau ditertawan dirimu dimasa lalu, disaat Kau tak Tau siapa dirimu dimasa lalu, disaat Kau tak ingat apapun tentang dirimu.

Rajutan benang tebal cokelat yang indah menutup sebagian tubuhmu yang kedinganan. Bunyi jam berdetak keras ditengah sepi, tetap saja Kau tak akan dengar sehingga Kau sangka waktu ini tidak berjalan.

"Hai lihat Pak Tua, ada yang datang kesini. Sepertinya Aku kenali sosok itu, aroma tubuhnya saja tak asing lagi."